Gaya di Kaki Lima - Rakyat Indonesia
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

INDONESIA TERKINI:

latest

Gaya di Kaki Lima

Selama ini orang hanya akan menemui Sisha di tempat-tempat nongkrong elit. Namun Sisha Vaganza telah memiliki outlet kaki lima. Jadi di kaki lima pun Anda sudah bisa bergaya. Empat anak  muda mengitari meja. Kemudian secara bergan…

Gaya di Kaki Lima
Selama ini orang hanya akan menemui Sisha di tempat-tempat nongkrong elit. Namun Sisha Vaganza telah memiliki outlet kaki lima. Jadi di kaki lima pun Anda sudah bisa bergaya.
Empat anak  muda mengitari meja. Kemudian secara bergantian mereka menyedot pipet yang tersambung dengan selang yang berasal dari sebuah tabung menyerupai piala. Empat anak muda ini memang tengah merokok sari buah, sebuah gaya hidup yang diimpor dari Timur Tengah yang dikenal dengan nama Shisa. “Kami memiliki outlet indoor dan outdoor (kaki lima),” ungkap Bagus Adinda, yang berkolaborasi dengan bintang iklan dan sinetron Ahmad Taufiq (Fiqi) dalam mendirikan Sisha Vaganza.

Menurut anak muda yang telah merintis usaha sejak zaman kuliah ini, konsep Sisha yang diusungnya berbeda dengan bisnis sejenis. Selama ini Sisha hanya bisa ditemui di dalam ruangan nongkrong elit. Namun dengan berani Bagus mengusung bisnis yang masuk ke kategori life sytle ini ke kaki lima. “Ke depan saya yakin bisnis ini akan mengalami booming,” tandas Bagus di gerainya Jl. Tebet Utara Dalam 7A.

Bagus menggaransi meski buka di kaki lima kualitas tabung (bong), sari buah, bara maupun  tobacco-nya tetap yang terbaik untuk ukuran Indonesia. “Semuanya tidak berbeda dengan kualitas Sisha yang ada di bilangan Kemang,” janji Bagus, yang juga pemilik Bakso Tukul ini. “Konsumen harus hati-hati karena banyak beredar barang palsu,” wanti wanti Bagus.
Pria yang selalu memakai pakaian warna merah ini, optimistis bisnis Sisha akan mengalami pertumbuhan eksponensial. “Pengalaman kami sendiri menunjukkan hal itu,” jelas Bagus.

Karena, imbuh Bagus, berbeda dengan bisnis life style lain yang rata-rata orang harus merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa menikmatinya, Sisha yang ditawarkan Sisha Vaganza hanya Rp 25 ribu per tabung. Sedangkan satu tabung bisa dinikmati empat orang. “Kalau patungan satu orang cukup hanya mengeluarkan uang sekitar Rp 6-7 ribu. Kalau mereka membawa uang Rp 10 ribu saja sudah  bisa menikmati Sisha dan soft drink,” kata Bagus.

Apalagi, tambahnya, pelaku bisnis Sisha tidak harus melakukan edukasi pasar. Karena pada dasarnya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat perokok. “Sisha bisa juga dijadikan terapi bagi para perokok. Dari sisi kesehatan, efek Sisha jauh lebih kecil dibandingkan rokok,” tukas Bagus.

Selain itu, bisnis Sisha bersifat komplementer terhadap bisnis lain. Misalnya dengan bisnis makanan dan softdrink. “Terserah kepada para pelaku bisnisnya, apakah Sisha yang akan dijadikan bisnis utama ataukah makanan dan minuman yang dijadikan bisnis utamanya. Kalau saya sendiri lebih cenderung menjadikan Sisha sebagai bisnis utamanya,” sebut Bagus yang memiliki menu Shisha GAM (Grape, Apple, Mint), Shisha RMS (Rasa leMon Segar), Shisha CLEOPATRA,  Shisha FIR’AUN, Shisha OSAMA,  Shisha 911,  Shisha Anti-Bush,  Shisha by Request dan Shisha VAGANZA

Tetapi yang jelas, lanjut Bagus, bisnis Sisha ini bisa menumbuhkan peluang bisnis lain, terutama bisnis makanan dan minuman. Karena biasanya, setelah menikmati Sisha pelanggan akan merasa lapar atau haus.

Lantaran prospeknya yang bagus ini, Sisha Vaganza menawarkan kemitraan kepada pihak lain yang tertarik untuk menggeluti bisnis ini. “Sudah ada beberapa pihak yang tertarik bergabung dengan kami. Di antaranya berasal dari Samarinda, Surabaya dan Malang,” tuturnya.

Pada tahap awal Bagus menyarankan mitra bisnisnya untuk mengambil paket 5 bong (tabung). Untuk paket 5 bong Bagus hanya mematok harga Rp 8,,5 juta, sudah termasuk 10 aneka rasa sari buah, selang Mya, pipet, dan pelatihan. “Sistemnya kami menjual putus untuk paket 5 bong dan pelatihannya. Setelah itu mitra tinggal membayar franchise fee Rp 500 ribu per bulan yang ditarik pada bulan keempat,” katanya seraya menyebutkan hak-hak franchisee di antaranya menggunakan nama Shisha VAGANZA selama 5 tahun, training intensif pra opening, konsultasi berkala setiap bulan selama 5 tahun.

Bagus yakin usaha ini di daerah akan prospektif. Selain modalnya kecil, orang-orang daerah juga memiliki banyak uang. “Setelah adanya otonomi daerah, banyak orang-orang daerah yang memiliki uang. Sehingga life style bukan monopoli orang-orang metropolitan lagi,” alasan Bagus.
Bagus juga memperkirakan paket 5 tabung untuk outlet outdoor  mungkin justru akan mengalami booming di daerah. “Kalau mereka sudah mengeluarkan uang untuk life style tentu mereka ingin juga dilihat banyak orang. Itu sebabnya masa depan outlet outdoor di daerah justru cerah,” katanya seraya mengimbuhkan bahwa meracik shisha tidak mudah. Dibutuhkan quality control yang konsisten dan inovasi rasa..

Dalam hitung-hitungan Bagus, kalau dalam sehari bisa menyuguhkan 10 tabung Sisha, dengan masing-masing tabung berharga Rp 25 ribu,  maka dalam sebulan omset kotor sudah mencapai Rp 7,5 juta per bulan. Siapa tertarik untuk bergabung?

No comments