Bale-Bale, Nyaman Tidurnya Gede Omsetnya - Rakyat Indonesia
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

INDONESIA TERKINI:

latest

Bale-Bale, Nyaman Tidurnya Gede Omsetnya

Sejumlah penelitian menyebutkan,tidur yang berkualitas meski hanya sebentar jauh lebih baik ketimbang tidur dengan kuantitas besar namun tidak berkualitas. Kebutuhan tidur yang berkualitas inilah yang digarap oleh Linda.    
Membe…

Bale-Bale, Nyaman Tidurnya Gede Omsetnya
Sejumlah penelitian menyebutkan,tidur yang berkualitas meski hanya sebentar jauh lebih baik ketimbang tidur dengan kuantitas besar namun tidak berkualitas. Kebutuhan tidur yang berkualitas inilah yang digarap oleh Linda.    

Membeli tempat tidur itu mudah, tetapi tidak untuk tidurnya. Dalam arti, memperoleh tidur yang berkualitas itu jauh lebih sulit daripada membeli perangkat tidur. Dengan berjalannya waktu, ungkapan itu tidak sepenuhnya benar. Sebab, tidur yang berkualitas baik yang dilihat dari lamanya tidur maupun posisi tidurnya, tanpa didukung perangkat tidur (tempat tidur, kasur, bantal, guling, selimut, dan sprei, red.) yang memadai, tentu tidak akan menghasilkan badan dan pikiran yang lebih fit, setelah bangun dari tidur. Tak heran, kondisi ini memacu para pembuat perangkat tidur berlomba-lomba menghasilkan temuan baru di bidang ini. 

Salah satu dari mereka adalah Linda. Pemilik usaha di bidang perangkat tidur, khususnya sprei, bed cover, bantal, dan selimut, dengan merek Bale-Bale ini memulai “bisnisnya” karena merasa kesulitan ketika akan menyimpan bed cover yang pada umumnya memang berukuran besar dan tebal, sehingga makan tempat dan merepotkan bila akan dibawa ke mana-mana. Dengan sedikit sentuhan, ia membuat bantal sekaligus selimut atau balmut. “Bentuknya bantal dengan resleting di sekelilingnya. Ketika resleting dibuka akan terbentang selimut atau bed cover. Balmut two in one yang cocok untuk traveling ini, terbagi menjadi dua ukuran yaitu 1 meter dan 1,5 meter dengan rentang harga Rp90 ribu hingga Rp125 ribu,” jelasnya. Selain balmut two in one, Linda juga membuat balmut three in one. Dengan ukuran 3 meter, setelah resleting dibuka, bantal akan berubah menjadi selimut atau bed cover sekaligus kantung tidur (sleeping bag). Perangkat tidur yang mudah dan ringan ditenteng ini, dijual dengan harga Rp235 ribu. 

Dengan alasan kepraktisan baik dalam kemasan maupun pemakaian, ia membuat sprei dengan karet di sekelilingnya, sehingga berbeda dengan sprei pada umumnya yang karetnya hanya terdapat di empat sudutnya. Dengan sprei semacam ini, tidur dengan posisi bagaimana pun tidak akan membuat sprei berantakan dan harus merapikannya kembali setiap kali bangun tidur. “Pokoknya, tanpa diberesin satu minggu pun, posisi sprei akan tetap sama dengan ketika pertama kali dipasang. Saya yakin setelah masyarakat menggunakan sprei produk Bale-Bale ini, mereka malas menggunakan lagi sprei standar,” katanya, tanpa bermaksud sombong. Sprei berukuran 100 x 200 meter sampai 200 x 200 meter ini memiliki rentang harga Rp60 ribu hingga Rp600 ribu, tergantung kualitas bahan katun yang digunakan. Di samping Bale-Bale, ia juga membuat sprei produk kelas dua dengan label Famili.  

Dari home industrynya di Pangkalan Jati, Jakarta Timur, Linda yang merekrut ke-15 karyawannya di bagian produksi dari masyarakt sekitar dengan sistem komisi ini, saban hari memproduksi 150 set sprei dan 120 balmut. Produk-produk ini digelar di sebuah outlet mungil di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. Di gerai ini, setiap bulan ia meraup omset rata-rata Rp300 juta. Omset ini dikumpulkan dari penjualan sekitar lima kodi sprei dan dua kodi balmut per hari. Pemasukan ini di luar pesanan yang minimal sebanyak satu kodi/hari.  
Bale-Bale yang dibangun dua tahun lalu dengan modal awal Rp30 juta yang dirogoh dari kocek sendiri ini, bukan cuma unik di produknya melainkan juga di pemasarannya. Produk yang sedang menjajagi pasar Belanda dan Australia ini memberi garansi kepada setiap konsumen yang membeli produk Bale-Bale maupun Famili. “Jika produk yang dibeli setelah dicuci akan mengeluarkan bulu atau luntur warnanya, silahkan kembalikan ke sini, nanti kami ganti dengan produk sejenis yang baru,” ujarnya. Selain itu, produk yang sudah tersebar ke seluruh Indonesia ini menggunakan para ibu rumah tangga sebagai marketer. “Mereka harus membeli putus dari kami tetapi mereka boleh mengembalikan lagi produk yang tidak terjual, nanti kami ganti dengan uang sejumlah produk yang dikembalikan, tanpa potongan apa pun. Dengan demikian, mereka tidak akan menangung risiko apa pun bila jualan tidak laku, sedangkan kami nothing to loose karena dapat menjual lagi produk tersebut,” jelas perempuan yang kini merambah bisnis wedding decoration khusus untuk kamar pengantin dengan harga paket Rp1 juta hingga Rp5 juta. 

Dagangan ini, ia melanjutkan, berisiko. Dalam arti, jika tidak laku, tentu tidak mungkin akan dipakai sendiri, apalagi modalnya terhitung cukup besar. Mengapa menggunakan para ibu rumah tangga? “Saya menganggap mereka lebih potensial daripada perempuan-perempuan muda. Sebab, pada umumnya mereka memahami karakter bahan sehingga bisa dengan cepat menjual produk kami. Di sisi lain, pada umumnya, ibu-ibu itu memiliki link lebih banyak dan produk ini terbilang spesifik,” katanya. Yah, urusan perangkat tidur, khususnya sprei, bantal, dan selimut memang dari, untuk, dan oleh ibu rumah tangga. Jadi, apa salahnya kalau “pegangan” sehari-hari kaum ibu ini dikembangkan menjadi sebuah usaha yang mampu menambah uang belanja, di samping mengisi waktu luang. Begitu bukan, ibu-ibu? (Russanti Lubis)

No comments