Mengembalikan Minat Baca di #HariBukuNasional - Rakyat Indonesia
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Mengembalikan Minat Baca di #HariBukuNasional

Diperingati sejak tahun 2002 lalu, Hari Buku Nasional menjadi pengingat bahwa membaca buku tak kalah pentingnya dalam kehidupan sehari-hari. Peringatan ini berlangsung sejak 2002 yang digagas Menteri Pendidikan kala itu, Abdul Ma…



Diperingati sejak tahun 2002 lalu, Hari Buku Nasional menjadi pengingat bahwa membaca buku tak kalah pentingnya dalam kehidupan sehari-hari. Peringatan ini berlangsung sejak 2002 yang digagas Menteri Pendidikan kala itu, Abdul Malik Fadjar. Tanggal ini dipilih berdasarkan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980.

Peringatan hari buku, kerap dikaitkan dengan minat baca di Indonesia masih tergolong rendah. Dari data studi 'Most Littered Nation in the World' yang pernah dirilis Central Connecticut State University pada tahun lalu, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara. Posisi itu persis di bawah Thailand dan di atas Bostwana.

Unesco juga pernah mengungkapkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen, yang artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca. 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget.

Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

Ironisnya, meski minat baca buku rendah tapi data wearesocial per Januari 2017 mengungkap, jika orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. Laporan ini berdasarkan hasil riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris. Ilmu minimalis, malas baca buku, tapi sangat suka menatap layar gadget berjam-jam, ditambah paling cerewet di media sosial.

Lewat gadget, memang banyak informasi fakta yang beredar. Sayangnya, berbagai informasi yang didapatkan bukan berasal dari sumber yang bisa dipercaya, melainkan dari media sosial yang lebih banyak dipenuhi oleh opini, bukan fakta. Bahkan sebaliknya, kita dengan begitu mudahnya percaya dengan portal-portal fake news dan akun-akun penyebar hoax.

Hal ini tentunya menjadi refleksi bagi kita. Bahwa buku sejatinya adalah sumber keilmuan, informasi, dan pengetahuan yang sudah melewati keabsahan fakta dan data. Sudah saatnya kita lebih mempercayai dan menyelami buku daripada mempercayai apapun yang disuguhkan oleh media online.

Kuliah Beasiswa...?? Klik Disini

No comments